Jumat, 07 Februari 2014

Dengan PMRI Benarkah Kelasnya Menjadi Ramai?



(Ruchiatus Sun Aeni, Guru MIN Yogyakarta II)

Setelah PMRI diterapkan, banyak guru mengeluh kelasnya ramai, mengganggu kelas yang lain, apalagi yang jumlah muridnya lebih dari 30 anak. Hal ini kelihatannya membuat guru tidak enak dengan teman yang lain.
Sebelum menggunakan pendekatan PMRI, memang kita akui semua kelas tenang. Kalau ada suara yang terdengar dari luar kelas, hanyalah suara guru atau canda di kelas yang berlangsung tidak terlalu lama. Suasana tenang ini berlangsung amat lama sehingga menjadi tradisi. Banyak guru menyakini kelas yang tenang menunjukan gurunya pandai mengelolah kelas. Apakah ini benar?
Dalam pembelajaran matematika, siswa yang menemukan sendiri cara menyelesaikan masalah akan lebih bermakna dibandingkan siswa yang hanya mendapatkan dari guru. Memang tidak semua pokok bahasan/subpokok bahasan yang dapat ditemukan oleh siswa sendiri. Prinsip PMRI “guru bertindak sebagai fasilitator” bisa diterapkan di sini. Guru bukan lagi sebagai pusat informasi. Jika guru tidak lagi sebagai center, maka pastilah terjadi proses yang lebih panjang bagi siswa yang aktif menemukan sendiri. Pada saat inilah, siswa tidak lagi diam di mejanya sendiri, tetapi butuh orang lain untuk menyelesaikan masalah yang diberikan oleh guru atau butuh alat untuk menyelesaikannya.  
Untuk kelas I dan II, awalny memang terlihat ramai. Setelah berlangsung beberapa bulan, anak terkondisi terbiasa bekerjasama dengan orang lain tanpa menimbulkan suara gaduh. Hal ini dialami oleh guru kelas I dan II MIN Yogyakarta II. Memang tidak mudah menerapkan PMRI di kelas, yang mereka lakukan antara lain;

  • ·         Membuat kesepakatan dengan anak tentang sangsi-sangsi jika melanggar aturan;
  • ·         Tempat duduk dibuat berkelompok empat-empat;
  • ·         Guru terbiasa berbicara wajar di kelas;
  • ·         Pada saat anak mengemukakan pendapatnya, guru mendengarkan dengan seksama;
  • ·         Guru tidak sering mengulangi ucapannya, bahkan hanya satu kali saja;
  • ·         Anak dibiasakan untuk menghargai orang yang berbicara.

Hal tersebut dilakukan terus menerus sehingga terbentuk pola situasi yang kondusif. Semua pengalaman yang dialami oleh guru-guru MIN Yogyakarta II selama menerapkan PMRI mungkin dapat diterapkan oleh guru-guru yang akan menerapkan PMRI di sekolahnya.

Sumber            : Buletin PMRI edisi VI-Februari 2005 hal. 6

(Eka Santi Wahyuni, Mi’roj Muntaha dan Suhariyati)

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PMRI MEMANG BEDA



(M.I Sri Rahayu Guru Kelas III SD Kanisius Demangan Baru, Yogja)

Pembelajaran matematika, sebelum menggunakan pendekatan PMRI, diberikan dengan menjelaskan langkah-langkah dalam menghitung. Guru menyajikan materi dengan memberikan contoh-contoh bagaimana mengerjakan suatu soal dengan jelas dan rinci. Kemudian, siswa diminta mengerjakan soal-soal latihan yang sudah tersaji dengan jelas dan jawabannya pun sudah pasti.
Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI, ada 5 tahap yang perlu dilalui oleh siswa yakni Penyelesaian masalah, Penalaran, Komunikasi, Kepercayaan diri, dan Representasi.
Pada tahap penyelesaian masalah, siswa diajak mengerjakan soal-soal dengan menggunakan langkah-langkah sendiri. Siswa dapat menggunakan cara/metode yang ditemukan sendiri, yang bahkan sangat berbeda dengan cara/metode yang dipakai oleh buku/guru. Pada tahap penalaran, siswa harus dapat mempertanggungjawabkan cara/metode yang dipakai dalam dalam mengerjakan setiap soal. Pada tahap komunikasi, siswa diharapkan dapat mengomunikasikan jawaban yang dipilih teman-temannya dan menyanggah jawaban teman yang tidak sesuai dengan pendapat sendiri. Pada tahap kepercayaan diri, siswa diharapkan mampu melatih kepercayaan diri dengan cara mau menyampaikan jawaban yang diperoleh kepada teman-temannya dengan berani maju ke depan kelas dan jika jawaban yang disampaikan berbeda dengan jawaban teman yang lain, siswa diharapkan dapat bertanggungjawab. Tahap representasi, siswa yang memperoleh kebebasan untuk memilih representasi yang diinginkan (benda konkret, gambar atau lambang-lambang matematika) untuk menyajikan/menyelesaikan masalah yang dihadapi. Selain itu, banyak juga orang tua yang menyampaikan tanggapan dan pandangannya kepada guru setelah pelajaran matematika dilaksanakan dengan pendekatan PMRI, di antaranya yaitu pelajaran matematika dengan pendekatan PMRI sebagai berikut.
  • ·         Sangat komprehensif. Artinya, penyajian materi pelajaran selalu dihubungkan dengan materi lain.
  • ·         Bersifat integral. Artinya, pelajaran matematika dapat dihubungkan dengan langsung dengan pelajaran lain.
  • ·         Menuntut logika dan penalaran yang sah. Artinya, siswa yang berpikir dengan tertata dalam matematika, pada pelajaran lain pun proses penalarannya juga bagus.
  • ·         Menggunakan berpikir tinggat tinggi. Artinya, anak yang dapat mengikuti pembelajaran matematika dengan pendekatan PMRI, daya tangkapnya tinggi.
Maka pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan PMRI membawa pengaruh yang besar dalam pengembangan pemahaman matematika dalam diri anak.

Sumber            : Buletin PMRI edisi VI-Februari 2005 hal. 5

MEMBUMIKAN MATEMATIKA MERINGKAS KALIMAT



(St. Kartono Orang Tua Murid SD Kanesius Demangan, Yogya)
                                                                          
“Santi ingin mengadakan pesta. Untuk itu dia membeli apel.
Setiap 1 kg terdapat 6 apel. Bila Santi ingin mengundang 33 orang,
berapa
kg berat apel yang harus dibeli Santi?”
Soal tersebut tersaji dalam buku siswa Matematika Kelas III SD (PMRI-P2MPT, 2004). Dalam hal ini, sebagian orang tua terlibat bahkan secara emosional pada tahap pengerjaan soal-soal semacam di atas yang menjadi PR buah hati mereka. Pelajaran matematika realistik untuk sementara disamakan dengan soal-soal yang berbentuk cerita. Cerita tersebut dikemas dalam konteks kehidupan sehari-hari yang memuat angka-angka atau hitungan yang dimaksudkan agar siswa dapat menemukan matematika dalam pengalaman keseharian.
Seperti yang dialami putri Bapak St. Kartono yang begitu suntuk jika mengerjakan PR tersebut, entah karena kewajiban atau matematika realistik yang menarik, yang setiap kali ditanyakan adalah rumusan kalimat cerita, bukan hitung-hitungan. Ini artinya, persoalan pertama adalah memahami isi cerita. Berkaitan dengan persoalan tersebut, sejumlah gagasan disampaikan oleh Bapak St. Kartono di sini, yakni pentingnya hal-hal kebahasaan bagi anak-anak usia sekolah dasar dalam mendukung tujuan baik matematika realistik.
Pertama, anak-anak kita belajar dari hal-hal yang konkret menuju abstrak. Pilihan kata semestinya memperhitungkan proses berpikir sesuai dengan tingkatannya.
Kedua, anak-anak kita belajar dari kalimat tunggal/pendek menuju kalimat majemuk/panjang. Agar mempermudah siswa dalam memahami suatu soal maka sebaiknya dalam merumuskan soal digunakan kalimat-kalimat tunggal, setiap kalimat hanya memuat satu subjek, predikat dan objek.
Ketiga, pilihan tokoh yang memungkinkan kesadaran gender. Inilah peluang berharga membangun kesadaran gender sejak dini lewat pelajaran matematika realistik.
Pembelajaran matematika realistik patut terus dikembangkan. Untuk itu, dukungan dari siapapun terutama bahasawan dengan tujuan dan niat baiknya sungguh-sungguh bermanfaat bagi anak-anak bangsa ini.

Sumber            : Buletin PMRI edisi VI-Februari 2005 hal. 4

Senin, 13 Mei 2013

Latihan Soal Tes CPNS 2013

Mau ikut latihan tes CPNS 2013 atau mau menguji kemampuan untuk persiapan CPNS 2013??
Buka aja link berikut ini:
http://www.cpnsonline.com/?id=ekasanti
Semoga bermanfaat.. :)

Rabu, 28 Maret 2012


BERINGIN

(Ficus benyamina l.)

Sinonim = Ficus microcarpa, Linn. = Fnitida, auctt. = Fretusa, auctt. = Fretusa, auctt. non Linn. = Fretusa var nitida auctt. non verae

Familia: Moraceae

URAIAN:

BERINGIN banyak ditemukan di tepi jalan, pinggiran kota atau tumbuh di tepi jurang. Pohon besar, tinggi 20-25 m, berakar tunggang. Batang tegak, bulat, permukaan kasar, coklat kehitaman, percabangan simpodial, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Daun tunggal, bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3-6 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota bulat, halus, kuning kehijauan. Buah buni, bulat, panjang 0,5-1 cm, masih muda berwarna hijau, setelah tua berwarna merah. Biji bulat, keras, putih.

NAMA LOKAL:

Caringin (Sunda); Waringin (Jawa, Sumatera); Chinese banyan (China); Banyan tree (Inggris).

PENYAKIT YANG DAPAT DIOBATI:

Pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis), nyeri rematik sendi, luka terpukul (memar), influenza, radang saluran napas (bronkhitis), batuk rejan (pertusis), malaria, radang usus akut (acute enteritis), disentri, kejang panas pada anak-anak.

PEMANFAATAN:

Akar udara dan daun (sebelum digunakan dicuci, lalu dikeringkan).

AKAR UDARA BERMANFAAT UNTUK MENGATASI:

- Pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis).

- Nyeri pada rematik sendi, luka terpukul (memar).

DAUN BERMANFAAT UNTUK MENGATASI:

- Influenza, radang saluran napas (bronkhitis), batuk rejan (pertusis).

- Malaria, radang usus akut (akut enteritis), disentri.

- Kejang panas pada anak.

CARA PEMAKAIAN:

15-30 gr akar udara beringin kering atau 50-120 gr daun beringin kering, direbus. Airnya diminum.

UNTUK PEMAKAIAN LUAR: Daun beringin direbus. Selagi hangat, airnya digunakan untuk mandi.

CONTOH PEMAKAIAN:

1. KEJANG PANAS PADA ANAK: 100 gr daun beringin segar, dicuci. Rebus dengan 5 liter air selama 25 menit. Selagi airnya hangat, gunakan untuk memandikan anak yang sakit.

2. RADANG USUS AKUT DAN DISENTRI: 500 gr daun beringin segar dicuci bersih. Rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring. Bagi untuk 2x minum, pagi dan sore hari @ ½ gelas.

3. RADANG AMANDEL: 180 gr akar udara beringin dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Tambahkan 1 gelas cuka. Setelah dingin, digunakan untuk kumur gargle. Lakukan beberapa kali sehari.

4. BRONKHITIS KRONIS: Ambil 75 gr daun beringin segar dan 18 gr kulit jeruk mandarin. Cuci lalu rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring. Untuk 3 kali minum (pagi, siang, dan malam). Lakukan selama 10 hari.

KOMPOSISI:
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS:

Rasa sedikit pahit, astringen, sejuk.

KANDUNGAN KIMIA: Akar udara mengandung asam amino, tenol, gula, dan asam orange.