Kebahagiaan itu bukan sepantasnya dicari di tempat-tempat hiburan yang semakin menjauhkan diri kita dengan Allah, tapi kebahagiaan sejati dapat diperoleh di tempat dimana kita bisa bersujud dengan khusyu, memuji keagunganNya dan bisa lebih mencintaiNya.
Sabtu, 10 Desember 2011
Sio Mama
Ibu yang tidak mengerti mesin fax atau SMS apalagi internet dan email, ternyata tidak menyurutkan kesukaannya dalam membuat surat dan bercerita panjang lebar tentang situasi di pulau seberang. Baginya, berkirim kabar melalui surat-menyurat dan diantar sendiri ke kantor pos merupakan kegiatan sehari-harinya di usia senja.
Kehadiran telepon tampaknya tidak juga mengurangi frekuensi beliau untuk terus-menerus berkirim surat. Ibu yang tidak mulus dalam menjalani usia senjanya, ternyata banyak ditolong dengan upayanya menulis surat secara kontinu sehingga memungkinkan beliau untuk lebih mudah mencurahkan apa yang menjadi bebannya.
Masih segar dalam ingatan tatkala manapaki tangga kanak-kanak dulu, ibu yang selalu memiliki waktu khusus bagi anak-anaknya, mendoakan, bercerita, bahkan bermain bersama. Hal yang tidak pernah dilupakan adalah ketika organisasi Pramuka di sekolah mengadakan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu). Kala itu ada kabar bahwa setiap anggota regu Pramuka Penggalang harus berparade dengan menggunakan pakaian aneh. Dengan hanya menulis di secarik kertas, minta tolong ke ibu menjahitkan baju dari potongan-potongan bekas jahitan yang ada di rumah. Hanya dalam waktu semalam, baju tersebut sudah jadi dan beliau antar ke sekolah. Rupanya, ibu tidak tidur karena menjahitkan baju parade untuk anaknya. Sungguh masa kecil yang tidak pernah dilupakan bersama ibunda tercinta. Ketika sang cucu hadir, si kecil pun sungguh merasakan masa kecil yang penuh ceria bersama neneknya. Itulah sebabnya tidak berlebihan jika Samuel dan Rini melantunkan lagu BUNDA dalam reff-nya: "Kata mereka diriku selalu dimanja. Kata mereka diriku selalu ditimang. Oh Bunda ada dan tiada dirimu. Kan selalu ada di dalam hatiku"
***
SETIAP orang pasti memiliki cerita dan kesan tersendiri terhadap ibunda tercintanya, terutama pengalaman-pengalaman suka dan duka ketika menjalani hari-hari kehidupan. Dari kacamata spiritual, kita dapat melihat bahwa doa seorang ibu ternyata memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan keluarga. Doa seorang ibu sangat berarti bagi suami dan anak-anaknya.
Terkadang ibu tidak memiliki modal dan kompetensi yang tinggi untuk bekerja seperti sang suami. Bahkan, tidak jarang anak-anaknya lebih pintar dalam mengajari ibunya untuk beberapa hal. Namun, yang tidak dapat dipungkiri algi, setiap ibu pasti memiliki "modal dengkul" untuk berlutut berdoa dan menopang kehidupan keluarga, anak-anak, serta pekerjaan suami. Sekalipun seorang ibu sudah demikian hebat dalam kariernya, namun perannya dalam menopang keluarga dan sebagai penolong tetap sangat dominan. Artis Karina dengan begitu indah melantunkan kerinduan hatinya dalam lagu Ummi (ibu), "Ummi, jiwa dan hidupku. Pemberi kebahagiaan dan harapan. Sekarang, juga dia masa yang akan datang, ...Ibu, ...Ibu!" Demikian pula Nikita yang selalu mengingat ibundanya dengan "dengkul" yang kuat dalam reff lagunya, "Di doa ibuku, namaku disebut. Di doa ibu kudengar, ada namaku disebut!"
Seiring dengan perkembangan zaman, peran ibu yang seharusnya begitu tinggi, kerapkali terusik. Ada banyak ibu yang begitu mudah menyerahkan pola asuh anak-anaknya kepada pembantu (baby sitter). Lebih mengerikan lagi, seorang ibu dengan mudah menghentikan kehidupan seorang bayi -anak kandungnya sendiri- hanya untuk menutup aib atau tidak mengahrapkan kehadiran sang bayi. Bahkan, beberapa calon ibu tega menghentikan pertumbuhan janin yang ada dalam kandungannya, hanya untuk kesenangan dan citra dirinya.
Dengkul yang hancur karena menahan beban ketika berlutut dan telinga yang panas karena banyak mendengar keluhan anak-anak atau suaminya, jauh lebih indah daripada mulut yang terus-menerus membentak dan menyebarkan gosip.
Ada banyak cerita tentang ibu, dan cerita-cerita tersebut menjadi tulisan bertinta emas yang penuh makna tatkala kita tahu bagaimana harus memberi perhatian kepada mereka. Ibu dimanapun di dunia ini tidak akan pernah meminta kompensasi atas air susu (ASI) yang telah diberikannya kepada kita. Dia pun tidak akan pernah menagih bayaran atas jam kerja yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Begitupun dengan perasaannya yang sering berkorban demi anak-anak dan suami tercinta.
Oleh sebab itu, dengan memberi perhatian dan kehangatan tentu akan semakin meningkatkan semangat hidup beliau. Secarik kertas yang bertuliskan kabar tentang anak dan cucunya, ungkapan kata-kata melalui telepon, SMS, maupun selembar kartu pos yang bergambar indah, ternyata cukup memberi makna dan kebahagiaan mereka selaku seorang ibu. Ketika ada kecukupan rezeki, mengirimkan buah tangan atau beberapa nilai rupiah, juga dapat mendekatkan pulau-pulau maupun kota-kota yang jauh.
Di atas itu semua, memberi perhatian dan peduli, di sinilah kuncinya. Selagi mereka masih hidup dan mungkin saat ini sedang tidak serumah dengan kita, lakukanlah sesuatu untuk menyenangkan hati mereka. Membuat kuburan ibu yng sangat indah atau bahkan membangun tugu kehormatan untuk sang ibu yang sudah meninggal, tampaknya tidak terlalu penting dibandingkan perhatian dan kepedulian yang kita berikan ketika mereka masih hidup. Karena ketika sang ibu sudah kembali ke pangkuan-Nya, tetap terbersit penyesalan sekaipun kita telah berbuat banyak, apalagi jika tidak pernah berbuat sama sekali. Namun, penyesalan selalu datang di akhir dan tidak mungkin membalikkan jam pasir hanya untuk menutupi penyesalan tersebut.
Siapakah yang dapat menggantikan peran dan kasih sayang ibu? Tidak ada! Ibu dalah ibu, dan satu adanya. Cerita Malin Kundang (Sumatra Barat) dan si Mardan (Batu Gantung di Sumatra Utara) tampaknya cukup memberikan pembelajaran bagi kita untuk menghormati dan menyayangi ibu. Rasanya kurang tepat jika suatu hari kelak, ketika kita menghadap tahta Sang Khalik membawa gelar baru, yakni "Si Anak Durhaka", karena tidak pernah memberi perhatian dan kepedulian kepada ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Harta, surat, dan fasilitas yang telah diberikan kepada ibu, tidak akan dibawa ke akhirat, tetapi hati yang penuh cinta kasih dan perhatian kepada sang ibu, inilah yang menjadi catatan tersendiri dalam "Buku Kehidupan" Sang Khalik.
Sahabat kita dari Maluku begitu indah melantunkan lagu Sio Mama,
"...Sio mama...e. Beta rindu mau pulang...e. Sio mama...e. mama su lia kurus lawang...e. Beta bolong balas mama. Mama pung cape sio dolo...e. Sio tete manis...e. Jaga beta pung mama...e."
Jika kita sudah jauh merantau dan jarang bertemu ibu, maka begitu ada waktu untuk pulang melihat ibu, pulanglah atau aturlah jadwal untuk itu! Mereka menantikan kehadiran kita. Hati akan semakin tersayat, ketika kita pulang hanya untuk melihat jasad ibu. Selamat menikmati kebersamaan dengan ibu tercinta, sebelum terlambat.
Kamis, 24 November 2011
Hari ini...
Hari ini aku sedikit bersemangat untuk kuliah. Mata kuliah AAA, mata kuliah favoritku di semester ini. Hari ini juga hari pertama aku masuk kuliah setelah dua minggu bergelut dengan soal-soal UTS (he, cuma enam hari ding...). Bu XXX (dosenku) sempat menanyaiku, kenapa hari Senin kemarin aku tidak berangkat. Kujawab bahwa aku sakit. Aku tak tahu apa penyakitku, tapi dua hari ini aku benar-benar merasakan sakit yang lumayan parah pada lambungku. Mungkin ini ada hubungannya dengan kecelakaan beberapa hari yang lalu atau karena pola makanku yang tidak teratur, mengingat kondisi keuanganku. Hmmm....Jumat, 12 Agustus 2011
Endometriose
Rabu, 22 Juni 2011
Maidany - Mengukir Cinta di Belahan Jiwa
Telah terbuka hati ini menyambut cintamu
Di sini segalanya kan kita mulai
Mengukir buaian rindu yang tersimpan dulu
`Tuk menjadi nyata dalam hidup bersama
Selamat datang di separuh nafasku
Selamat datang di pertapaan hatiku
Izinkan aku `tuk mencintaimu
Menjadi belahan di dalam jiwaku
Ya Allah jadikanlah ia pengantin sejati
Di dalam hidupku…(izinkan aku)
Wahai yang dicinta telah kurela
Hadirmu temani relung hatiku
Simpanlah jiwaku dalam do’amu
Kan kujaga cintamu
Wahai yang dicinta telah kurela
Hadirmu temani relung hatiku
Simpanlah nafasku dalam hidupmu
Kan kujaga setiamu
Apapun adanya dirimu
Ku `kan coba tuk tetap setia
Begitu pula pada diriku
Terimalah dengan apa adanya
Selasa, 19 Oktober 2010
PRAKTIKUM TIK
Praktikum pertama, naik ke lantai 4 adalah sama dengan senam aerobik, bikin tubuhku yang kurus semakin mengurus, wkwkw... :)
Asisten dosenku, namanya Abi (semoga ndak salah tulis, he...) dan yang seorang lagi, seorang perempuan muda yang aku lupa namanya (jangan marah ya mbak kalo baca tulisan ini, he lagi...). Awalnya menyenangkan karena aku dan temen-temen sekelas boleh langsung browsing meski cuma disuruh bikin email. Tentu saja aku ndak buat karena aku sudah punya dua alamat email yang selalu aku aktifin kalau ada kesempatan ke warnet. Hmm, kebanyakan email malah bikin pusing.
Tapi kesenangan itu berubah menjadi keadaan yang menyebalkan buat beberapa temen-temanku, termasuk aku sendiri, hehehe...
Why??? Karena komputernya SUPER DUPER LOLA... mungkin karena banyak yang pakai, jaringannya jadi agak terganggu. But, Alhamdulillah, hari pertama praktikum sukses mengumpulkan tugas dengan baik.
Buatku, mereka yang pada canggih menjalankan komputer, punya kapasitas otak yang luar biasa. Mereka bisa mengerti apa yang tidak aku mengerti dari bahasa komputer. Bikin blog, salah satu contohnya. Aku suka nulis, dan ternyata penulis itu kudu tahu seluk beluk tentang komputer juga. Stress rasanya ketika sedang menulis terus komputer tiba-tiba eror, hufh, butuh teknisi untuk membetulkannya. Keseringan manggil teknisi juga ndak baik, karena kita bakal selalu nabung buat bayar mereka. Makanya kita kudu ngerti komputer. Dan pada kesempatan praktikum ini, aku berharap, tidak hanya diajarkan bagaimana menggunakan komputer tapi juga diajari bagaimana untuk mengoperasikan program-program yang ada di dalamnya.
Jumat, 27 Agustus 2010
Melihat tak harus dengan matamu...
Aku seorang biasa, dengan sejuta cita-cita yang ku bangun untuk melengkapi denyut nadi kehidupan bahwa aku masih hidup dan berada di dunia ini. Aku dengan segala apa yang menempel pada diriku, yang selama ini aku aku sebagai milikku, meski sejatinya kita semua pun tahu apa yang ada pada diriku adalah kepunyaan Tuhanku. Sekilas saja aku tulis tentang diriku. Inilah aku.
Ada sebuah kisah menarik penuh hikmah ketika aku menjalankan ibadah puasaku saat ini, insya Allah. And the story begin...
***
2 minggu sudah puasa ini terlampaui, aku bersyukur dapat menjalankannya dengan sepenuh hati, Insya Allah, meskipun berbeda dengan puasa-puasa sebelumnya, karena sekalipun aku belum pernah merasakan berbuka bersama dengan keluarga di rumah. Setiap sore aku mengajar di sebuah TPQ Ramadhan (begitu kusebut karena hanya ada ketika bulan Ramadhan saja). Mulai dari jam empat sampai waktu berbuka hampir tiba.
Alhamdulillah, setiap pulang dari kegiatan mengajar, aku selalu dibekali ta'jil (makanan berbuka) berupa minuman sirup yang dibungkus dalam plastik dan jajanan anak-anak, sama seperti yang diterima oleh anak-anak yang mengaji di TPQ Ramadhan. Setiap hari selama bulan ini, begitu seterusnya aku jalani.
Dari hari pertama hingga hari ini, tak pernah sekalipun aku berbuka bersama keluargaku karena ketika adzan maghrib tiba aku masih menunggu angkutan yang lewat untuk mengantarku sampai ke rumah. Setiap hari aku berbuka di pinggir jalan, sekedar membatalkan puasaku.
Tapi dua hari yang lalu sungguh berbeda. Alhamdulillah, TPQ Ramadhan selesai lebih awal meskipun mungkin aku masih tidak bisa juga berbuka bersama keluarga, karena memang ternyata waktu berbuka telah tiba dengan ditandai sirine ketika aku masih berada di dalam kendaraan.
Aku pikir, nantilah, aku ingin sekali bisa berbuka puasa di rumah. Karena itu, kutahan diri karena beberapa menit lagi aku akan sampai di rumah.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seorang laki-laki berpakaian lusuh naik ke atas angkutan yang ku tumpangi. Tubuhnya gempal, berperawakan besar. Terlihat jelas dalam raut wajahnya, dia seorang pengangguran (mungkin) atau setidaknya seorang pekerja kasar. Aku tak mengerti apa yang ada dalam benak pikirannya saat itu, tiba-tiba dia tersenyum padaku dan mengatakan bahwa waktu berbuka sudah tiba. Aku pun hanya mengangguk dan membalas sedikit senyumnya.
“SKSD banget sich...” pikirku tiba-tiba. Astaghfirullah...
***
Ternyata memang tidak berhenti di situ saja, dia bertanya padaku apakah aku sudah berbuka atau belum, padahal di dalam angkutan itu juga ada seorang nenek dan ibu bersamaku. Kenapa tidak bertanya kepada mereka saja. Dan aku hanya tersenyum.
Sejurus kemudian dia mengangsurkan plastik kepadaku yang aku tahu isinya adalah makanan. Tidak, kutolak halus pemberiannya dan aku mengatakan padanya untuk memberikannya kepada nenek atau ibu itu, yang aku tahu ternyata mereka telah berbuka dengan bekal bawaan mereka sendiri.
Aku kira laki-laki itu akan berhenti di situ begitu saja, tak kusangka, dia menanyai semua penumpang yang ada dalam angkutan itu, adakah yang membawa permen. Dia bermaksud memintakannya untukku. Masya Allah...
Karena tidak ada yang membawa, dia angsurkan lagi kantong plastiknya. Dia katakan, ini mbak, makanlah sebagai pembatal puasa, Alhamdulillah saya sudah cukup berbuka dengan ini (sambil memperlihatkan plastik yang berisi minumannya dan sepotong tempe goreng). Karena aku masih terlihat menolak, akhirnya ia pun berujar, terimalah mbak, ini rezeki buat mbak, tidak baik menolaknya apalagi sampai menunda buka puasa. Dia taruh plastik itu di pangkuanku dan bergegas mencari bangku kosong.
Masya Allah, tak lupa aku ucapkan terima kasih. Apa yang aku pikirkan ini? Betapa picik sekali aku telah menilai orang yang telah berbaik hati padaku ini. Lihatlah, betapa dia begitu tulus dengan keluguannya untuk membantuku.
Dan akhirnya, ku nikmati juga sepotong bakwan goreng dari laki-laki itu. Nikmat sungguh karunia yang Allah berikan ini. Padahal aku telah berburuk sangka, astaghfirullah, semoga Allah mengampuniku.
Selasa, 24 Agustus 2010
Menunggu…
Menunggu itu suatu hal yang menyakitkan bagi banyak orang karena mereka tak tahu ada kepastian apa dari menunggu itu…
Namun halnya bagiku. Ada kalanya menunggu selalu memunculkan kebosanan dalam diriku. Tapi menunggu juga merupakan keahlian untuk menanti sesuatu yang memang harus kunanti. Menanti kepastian dengan kesabaran. Mungkin tak ada hal yang bisa kita lakukan dengan menunggu. Tapi jika kita mau berfikir tentang hidup ini. Kadangkala kita memang dituntut untuk menunggu. Bersabar dengan segala ketentuannya. Bersyukur dengan segala limpahan kenikmatan yang diberikan olehNya. Dan menunggu datangnya kenikmatan atau musibah yang akan menghadang di depan. Karena dengan menunggu, kita juga belajar untuk siap. Mempersiapkan segala kemungkinan akan segala kejadian yang juga masih berupa kemungkinan.
So, buat siapapun yang merasa menunggu itu adalah suatu hal yang sia-sia. Ketahuilah, bahwa disana ada banyak makna dari menunggu itu. Allah tidak akan memberikan kesia-siaan, tapi bagaimana kita mengolah suatu hal yang terlihat sia-sia itu (red: menunggu), menjadi suatu kegiatan untuk mengingat bahwa kita membutuhkan planning (red: rencana) untuk menentukan arah yang akan dituju. Bersabarlah dengan menunggu. Namun jangan terlena olehnya, karena kitapun dituntut untuk dapat gesit bergerak maju.
REBAH
Rebah...
Hati ini rebah
Tenggelam dalam bisu
Bisu dalam diam
Lelah...
Hati ini lelah
Sejenak membuncah
Sejenak melemah
Semua mengumpat
Mata mengumpat
Telinga mengumpat
Hidung mengumpat
Mulut mengumpat
Tangan mengumpat
Kaki mengumpat
Dan hati...
Ia hanya merebah
Meluruh dalam harap
Melarung dalam doa
Pasrah...
Senin, 23 Agustus 2010
BALADA SEMUT MERAH DAN HITAM
Hitaaam...
Blub blub blub blub
Blub blub blub blub
Hitaaam...
Masih terdengar jelas suara itu
Tapi, blub blub blub blub
Hitaaam...
Sesak semakin menyesak
Semua masuk semua keluar
Hitaaam...
Mencoba bertahan
Tapi tak dapat melawan kuasa Tuhan
Hitaaam...
Semua tiba-tiba sunyi
Dan gelap
Maafkan aku, hitaaam...
Dalam satu isak tangis si Merah
Dalam satu tatap nanarnya
Hitam melarut
Laju dalam pekat
Air selokan
Kamis, 19 Agustus 2010
IBU
Ibu.
Ku yakin kau yang melahirkan aku.
Dengan perjuangan yang hampir menyeret nyawamu.
Begitu letih, capai, lelah di waktu siang dan malam saat kau mengandung ku.
Makan ga lezat, minum tidak segar kau perjuangkan selama 9 bulan.
Ibu.
Terimakasih kau telah melahirkan aku, 2 tahun kau menyusuiku
Lalu kau asuh aku dengan kasih sayangmu, Sehingga aku jadi anak yang berbakti padamu
Dengan kelemah lembutanmu kau didik aku, Sehingga aku jadi manusia yang dewasa
Dengan kearifan mu kau didik aku, Sehingga aku jadi manusia independent
Ibu
Maafkan lah atas tindakan aku mengkritrikmu
Sebuah kritikan yang punya kaki
Kembalilah kepada jalan Tuhanmu
Yang Maha Pengampun
Berbeloklah menuju jalan Tuhanmu
Yang telah menciptakan bumi sebagai tempat tidur
Yaa Robbi
Ampunilah segala khilaf ibu aku
Aku tahu bahwa ibuku salah
Yaa Robbi, Kembalikanlah sifat kelemahlembutan ibuku yang dulu buat mengasuh aku
Tiupkanlah cahaya keberanian dan kearifan sebagaimana yang pernah ada
Sewaktu aku masih umur 2 tahun yang digunakan untuk mendidik aku
Yaa Robbi Yang Mahakuasa
Aku tahu, ibuku adalah hambamu yang Kau ciptakan
Yaa Robbi Yang Maha Pengampun lagi Penyayang
Aku tahu, ibuku adalah seorang makhluk yang Kau hadirkan di muka bumi
Berikanlah maghfiroh dan gumpalan pahala
Sebuah lamunan untuk mengingat ibu, di penghujung bulan Mei 2008 jam 7 an pagi. Sambil sarapan pagi dengan sambal terasi dan lauk tempe.